LAPORAN
PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM
“TINGKAH
LAKU”
Disusun
Oleh
KELOMPOK 4
1. Bobby
Gustian
2. Ria
Dwi Putri
3. Revania
Haroni
4. Sintia
sandri
5. Fadli
Yusuf
Dosen
Pembimbing :1.Rizwar, Drs., MS
2.Yunofrizal, Drs
LABORATORIUM BIOLOGI
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Bengkulu
2013/2014
I. TUJUAN
Setelah
melakukan kegiatan tentang gerak pada hewan dan tumbuhan, mahasiswa mampu :
1.
Mengenal 3 macam
gerak tropis pada tumbuhan.
2.
Mengenal 3
bentuk reaksi/perilaku hewan terhadap berbagai rangsangan.
3.
Mengenal reaksi
hewan yang bersifat phototaksis, positif dan negatif.
II. LANDASAN
TEORI
Tingkah
laku adalah suatu reaksi yang mengikut sertakan lebih dari reaksi satu sel (kecuali
jika individu tersebut terdiri dari satu
sel) lebih dari satu organ, bahkan lebih dari satu sistem organ. Contoh :
“
cahaya di arahkan kesisi tumbuhan, tumbuhan itu akan memutar daunnya dan
diarahkan ke arah cahaya tersebut. ”
Perilaku
adalah tindakan / aksi yang mengubah hubungan antara organisme dan lingkungannya.
Perilaku dapat terjadi sebagai akibat suatu stimulus dari luar dan dari stimulus
dari dalam.
a. Perilaku
pada tumbuhan
Perilaku
pada tumbuhan merupakan gerakan bawaan yang alami karena tumbuhan tidak
memiliki sistem saraf, sehingga perilaku tumbuhan hanya terbatas pada gerak
tumbuh dan gerak turgor. Gerakan tanaman antara lain adalah : membengkoknya
dahan dan akar, melipatnya daun dan
perpindahan tanaman tingkat rendah.
·
Tropisme
Gerakan
tropisme yaitu gerakan yang arahnya ditentukan oleh arah stimulus yang mengenai
tumbuhan.
·
Nasti
Gerakan
nasti yaitu gerakan yang umum yang tidak diarahkan ke arah tertentu, misalnya
pada daun manorsa pudica.
·
Grafitropisme
Gerakan
grtavitropisme ialah gerakan tumbuh ke bawah dan batang ke atas sebagai
responnya terhadap gravitasi.
·
Fototropisme
Gerakan
fototropisme adalah gerakan di mana batang dan daun sering mengarahkan dirinya
menuruti berkas cahaya.
·
Tigmotropisme
Gerakan
tigmotropisme merupakan gerakan terhadap sentuhan benda padat, yaitu dengan merambatnya
tumbuhan mengelilingi sebuah tiang atau batang tumbuhan lain.
·
Skototropisme
Gerakan skototropisme yaitu gerak atau respon
yang mengarah ke kegelapan, skototropisme berasdal dari bahasa yunani yang
artinya kegelapan.
b. Taksis
Beberapa
organisme bereaksi terhadap stimulus dengan bergerak secara otomatis langsung
mendekati atau menjauh dari sudut tertentu terhadapnya, respon ini disebut
taksis. Hal ini sama dengan tropisme pada tumbuhan kecuali bila lokomosi yang
nyata dari seluruh yang terlihat. Bahkan organisme sederhana E.coli
mamperlihatkan perilaku ini. Bila tabung kapiler seperti zat glukosa di
masukkan ke medium yang berisi, E. Coli, baktri mengubah lokomosinya sedemikian
rupa sehingga mereka berkumpul di dekat sumber zat tersebut. Respons ini
dinamakan kemotaksis (Kimball. 1983 : 723-724)
c. Gerak
Nasti
Daun
atau anak daun pada daun majemuk sering menunjukkan gerak nasti. Pembengkokkan
ke arah atas disebut hiponasti dan ke bawah di sebut epinasti. Gerakan nasti
dibagi menjadi 3, yaitu :
·
Niktinasti
Adalah gerak menutup atau rebahnya tumbuhan karena pengaruh
gelap atau menjelang malam. Contoh : gerak tidur daun lamtoro pada malam hari.
·
Tigmonasti
Adalah gerak nasti yang disebabkan oleh rangsang mekanisme
berupa sentuhan atau tekanan.Contohnya : menutupnya daun putri malu.
·
Fotonasti
Adalah gerak nasti karena pengaruh
rangsang cahaya. Contoh : gerak mekarnya bunga pukul empat, bunga waru, dan
bunga kupu – kupu.
d. Gerak
Hidrotropisme
Gerak
hidrotropisme yaitu gerak pada tumbuhan / tanaman karena adanya rangsangan air.
Gerak hidrotropisme terjadi pada akar tanaman. Air sangat berpengaruh besar
terhadap tanaman karena merupakan unsur yang sangat diperlukan oleh tanaman
untuk kelangsungan hidup.
Gerak
akar pada tanaman selalu mencari sumber air. Maka gerak tersebut disebut gerak
hidrotropisme.
Tanaman
yang hidup di tempat kering dengan tanaman yang hidup yang lembab sangat
berbeda. Jika di tempat yang lembab jumlah akarnya sangat banyak. Sedangkan
ditempat yang kering jumlah akarnya sangat sedikit. Hal ini di sebabkan karena
dipengaruhi oleh kadar air.
e. Gerak
geotropisme
Gerak
geotropisme yaitu gerak tumbuhan karena gaya gravitasi bumi yang umumnya
terjadi pada akar. Gerak geotropisme bergantung pada unsyr tanah dan keadaan
tanah pada suatu tempat yang menyebabkan akar selalu tumbuh ke bawah. Gerak
geotropisme sangat berpengaruh pada kesuburan tanah. Gerak tropisme biasanya
terjadi pada tumbuhan dikotil karena mempunyai akar tunggang yang selalu
bergerak lurus ke bawah (Salisloury,1995:87).
f. Respon gerakan
Respon
dapat dibedakan dalam 2 macam yaitu :
1. Gerak
tumbuh (growth movement)
Gerak
tumbuh merupakan respon terhadap rangsangan internal maupun eksternal. Dalam
hal ini rangsangan internal keadaan sebenarnya serta peranan dari faktor tumbuh
belum diketahui. Dapat dibedakan menjadi 3 respon terhadap rangsangan internal,
yaitu:
·
Gerak nutational
adalah gerak ke depan atau kebelakang ujung apikal ujung (shoot tip) spesies
tertentu.
·
Gerak spiral
merupakan gerak rotasi dari pucuk yang bertambah panjang sepanjang axis.
Seperti gerakan melilit ( twinning).
·
Gerak nasti
rangsangan external yang lain seperti temperatur dan cahaya.
2. Gerakan
turgor
Respon
dari bagian tumbuhan dimulai terutama sekali dari rangsangsan external. Gerakan
ini terjadi karena hasil perubahan dalam turgor (tekanan air) dari sel-sel itu
atau dari grup sel. Tidak seperti halnya gerakan tumbuhan yang lambat dan
merupakan hal yang permanen, gerakan turgor adalah cepat, halnya untuk waktu
yang pendek dan bisa di ulang. Gerakan turgor yang paling penting adalah
gerakan pembukaan dan penutupan sel pelindung epidermal dari daun dan batang.
Gerakan turgor yang lain adalah gerakan kontak (contact movement) dari daun
pada tumbuhan carnivora yang sensitif, dan gerak tidur dari daun pada tumbuhan
tertentu (Heddy.1983:41-47).
III. ALAT
DAN BAHAN
·
Gelas plastik
·
Tanah yang kering
·
Cacing tanah
·
Kacang hijau
·
Kotak ukuran 20 x 20 cm2
·
Gelas petri
·
Air
·
Tepung sagu
·
Kertas karbon
·
Pisau
IV. LANGAH PERCODBAAN
A. Gerak pada tumbuhan
·
Fototropisme
1.
Biji kacang hijau direndam 15 biji.
2.
Gelas plastik diisi dengan tanah.
3.
Kotak dilubangi pada salah satu sisi.
4.
Tanah kemudian dibasahi.
5.
Kacang hijau sebanyak 6 biji kemudian ditanam.
6.
Gelas tersebut disimpan pada kotak dan diamati pada hari
ke-3, 4 dan 5.
·
Geotropisme
1.
Biji kacang hijau kurang lebih 15 direndam.
2.
Siapkan gelas plastik, kemudian gelas plastik diisi
dengan tanah yang lembab.
3.
6 biji kacang hijau kemudian ditanam.
4.
Setelah hari ke-2 gelas tersebut dimiringkan dengan kemiringan
+ 450, kemudian diamati pada hari ke -2,3 dan 4.
·
Hidrotropisme
1.
Gelas diisi dengan tanah basah pada ½ sisi, kemudian
setengah sisinya diisi dengan tanah kering (untuk lebih mudahnya, sementara
diberi kertas pembatas).
2.
Kemudian + 6 biji kacang hijau ditanam pada
sekeliling permukaan tanah.
3.
Gelas percobaan akhirnya disimpan dan diamati pada hari
ke-2,3, dan 4.
B. Gerak pada hewan
1.
Cawan petri dan kertas karbon disediakan, dengan bentuk ½
lingkaran
2.
Cawan petri ditutup dengan kertas karbon hingga ½ bagian
menjadi gelap.
3.
Seekor cacing tanah dimasukkan pada bagian cawan yang terkena
cahaya.
4.
Kemudian diamati bagaimana gerakan cacing tersebut.
5.
Setelah cacing sampai pada bagian/tempat yang gelap,
cacing tersebut diangkat, kemudian bekas/jejak cacing tersebut ditaburi dengan
sagu. Cawan petri lalu dibalikkan sehingga tampak adanya tepung yang menempel
pada petri (sebagai gambaran/jiplakkan jejak gerakan cacing)
V. HASIL PERCOBAAN
A.
Gerak pada Tumbuhan
·
Fototropisme
ü Pada hari kedua tanaman kacang hijau tumbuh
dengan baik, dan panjangnya 3 cm. ujung
tunas tampak menuju ke arah lubang kotak atau ke arah datangnya cahaya
matahari.
ü Pada hari ke empat tanaman kacang hijau tumbuh
dengan baik juga, panjangnya 15 cm, ujung tunas kacang hijau sudah keluar dari
kotak melalui lubang yang disediakan di kotak karena kacang hijau tumbuh ke
arah datangnya cahaya matahari. Sehingga disebut Fototropisme Positif.
ü Pada hari ke lima tanaman kacang hijau tumbuh
dengan baik juga, panjangnya 20 cm. Ujung tunas kacang hijau sudah keluar dari
kotak melalui lubang yang disediakan dikotak karena kacang hijau tumbuh ke arah
datangnya cahaya matahari. Sehingga disebut Fototropisme Positif
·
Geotropisme
ü Pada hari ke dua tanaman kacang hijau tumbuh
baik, dengan panjang ± 3 cm. akarnya menuju pusat bumi.
ü Pada hari ke empat, setelah dimiringkan 450
tanaman kacang hijau makin panjang, panjangnya 10 cm, batang kacang hijau
bergerak menuju kepusat bumi, hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik bumi
(gravitasi bumi). Dan akarnya juga miring atau melengkung.
ü Pada hari ke limat, pada ke miringkan 450
tanaman kacang hijau makin panjang, panjangnya 13 cm, batang kacang hijau
bergerak menuju kepusat bumi, hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik bumi
(gravitasi bumi). Dan akarnya juga miring atau melengkung.
·
Hidrotropisme
ü Pada hari ke dua kacang hijau tetap tumbuh
meskipun tanahnya kering dan disiram pada arah yang berlawanan dengan tanaman.
Tingginya 2 cm.
ü Pada hari ke empat tanaman kacang hijau tetap
tumbuh disiram pada arah yang berlawanan dengan tanaman. Akar tanaman tumbuh ke
arah sumber air. Tingginya 7 cm.
ü Pada hari ke lima tanaman kacang hijau tetap
tumbuh meskipun disiram pada arah yang berlawanan dengan tanaman. Akar tanaman
tumbuh ke arah sumber air. Tingginya 12 cm.
B. Gerak pada Hewan
Percobaan 1 percobaan
2
Percobaan 3
VI. PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan tentang tingkah laku
yang telah dilakukan, tanaman kacang hijau sebagai hasil percobaan pada hari ke
dua tanaman tumbuh dengan baik dengan panjang 3 cm, tanaman kacang hijau tampak
menuju kearah lubang yang ada pada kotak atau menuju kearah datangnya sinar
matahari. Pada hari ke empat panjangnya mencapai 15 cm. Pada hari ke lima
tanaman kacang hijau tumbuh ke arah datangnya sinar matahari dan menuju ke luar
lubang.
Kacang hijau tumbuh
dengan cepat. Sebagian batang kacang hijau sudah tampak keluar dari kotak
menuju arah datangnya sinar matahari. Maka gerakan kacang hijau ini menuju
datangnya sinar matahari dikatakan sebagai gerakan Fototropisme Positif, hal
ini disebabkan karena kacang hijau memiliki zat hijau daun untuk melakukan
fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari, fotosintesis dilakukan tumbuhan
untuk menghasilkan makanan bagi tumbuhan itu sendiri dan menghasilkan oksigen
yang digunakan manusia untuk bernafas.
Selanjutnya
adalah gerak tumbuhan secara geotropisme pada kacang hijau. Pada hari ke dua
tanaman kacang hijau tumbuh dengan baik, dengan panjang 3 cm dimana yang tampak
hanya tunas, akar, batang dan daun belum terlihat dengan jelas. Pada hari
keempat, setelah dimiringkan 450
batang kacang hijau bergerak menuju ke pusat bumi dengan ketinggian 10 cm. Pada
hari ke lima tingginya mencapai 13 cm. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya
tarik bumi (gaya gravitasi bumi). Sehingga pertumbuhan kacang hijau tersebut
membengkok dan akarnya melengkung. Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa
geotropisme merupakan gerak bagian dari tumbuhan menuju ke pusat bumi karena
adanya gaya gravitasi bumi.
Gerak pada tumbuhan secara hidrotropisme pada
tanaman kacang hijau, di mana pada satu gelas diisi dua jenis tanah, sebagian
diberi air dan sebagian tanahnya tidak diberi air, Biji kacang hijau paling
baik tumbuh pada daerah yang tanah yang diberi air dari pada bagian yang tanahnya
tidak diberi air (tanah kering). Maka hal ini dapat membuktikan bahwa air
merupakan faktor utama dan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mahluk
hidup.
Gerak pada hewan secara Fototaksis pada
cacing tanah sebagai objek untuk mengamati tingkah laku hewan terhadap
lingkungannya/terhadap rangsangan. Cacing melakukan gerak/respon terhadap
rangsangan dalam hal ini rangsangan yang diberikan adalah sinar matahari,
cacing meresponnya dengan cara menjauhi arah datangnya sinar matahari dan
menuju daerah yang gelap atau daerah yang tidak terkena cahaya matahari. Dari
reaksi cacing terhadap cahaya matahari tersebut, maka dapat dikatakan bahwa
cacing merupakan hewan yang tidak menyukai cahaya matahari. Respon cacing
terhadap cahaya ini merupakan gerak taksis yaitu gerak fototaksis negatif
(menjauhi sinar matahari).
VII. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan yaitu
tentang pergerakan pada tumbuhan dan hewan, dapat disimpulkan bahwa :
·
Pada percobaan pertama, yaitu gerakan fototaksis pada
tumbuhan dapat disimpulkan bahwa tumbuhan tumbuh ke arah datangnya sinar
matahari.
·
Pada percobaan ke dua, yaitu gerakan geotropisme pada
tumbuhan dapat disimpulkan bahwa tumbuhan tumbuh ke arah pusat bumi, dan
akarnya membengkok.
·
Pada percobaan ke tiga, yaitu gerakan hidrotropisme pada
tumbuhan dapat disimpulkan bahwa tumbuhan tumbuh ke arah datangnya cahaya
matahari, dan akarnya menuju ke arah datangnya sumber air.
·
Pada percobaan ke empat, yaitu gerakan fototaksis pada
hewan dapat disimpulkan bahwa gerakan hewan secara spontan bergerak menghindari
arah datangnya rangsangan.
·
Pertumbuhan akar akan selalu menuju ke pusat bumi,
kecuali akar-akar tumbuhan tertentu
·
Cahaya sangat mempengaruhi proses perkecambahan dan
pertumbuhan tanaman.
VIII. JAWABAN
PERTANYAAN
1.
Masih adakah faktor lain selain cahaya yang dapat
mempengaruhi gerakan pada hewan ? Jelaskan !
Jawab:
Masih ada, yaitu
faktor Suhu, Lingkungan, kelembaban. Faktor suhu dimana hewan itu berada di
bawah suhu normalnya maka hewan tersebut tidak bisa beraktifitas dengan
sempurna, misalnya saja pada suhu dingin hewan akan lebih banyak
bergerak/berpindah untuk mencari suhu yang hangat. Sedangkan pada saat suhu
panas hewan tersebut mengurangi gerakannya.
2.
Mengapa pertumbuhan tanaman selalu mengarah pada
datangnya cahaya?
Jawab:
Karena tumbuhan
memiliki zat hijau daun, di mana zat hijau daun tersebut memerlukan cahaya
matahari untuk berfotosintesis sehingga tumbuhan berklorofil dapat membuat
makanannya sendiri.
3.
Jelaskan perbedaan fotonasti dan fototaksis?
Jawab:
·
Fotonasti adalah gerak yang disebabkan karena cahaya dan
juga dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan udara.
·
Fototaksis adalah gerakan yang disebabkan oleh cahaya
atau rangsangan.
DAFTAR PUSTAKA
Haddy, Suwarsono. 1996. Hormon Tumbuhan.
Jakarta : Raja Gratindo Parsada.
Kimball, Jhon. 1983. Biologi.
Jakarta : Erlangga
Sumartini. 2004. Sains Biologi.
Jakarta : Erlangga
Salisbury, Frank. 1995. Fisiologi Tumbuhan edisi 4. Bandung: ITB